Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik



Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik

Ditulis pada: 26 Maret 2018

Kadang aku bertanya dalam hati:
Kenapa semua orang tidak pernah benar-benar mengerti apa yang aku inginkan?
Kenapa aku yang selalu merasa sulit menjalani hidup ini? Kenapa hidup terasa begitu menyakitkan?

Aku bingung…
Apakah ini adalah ujian dari Allah? Atau bukan?

Kalau memang ini adalah ujian, aku merasa aku sudah gagal menjalaninya. Aku lelah. Aku merasa rapuh. Tapi di tengah semua rasa itu, aku bersyukur… karena aku punya satu orang teman yang selalu ada untukku.

Namanya Dedek Erik.

Mungkin dia sedikit ceroboh, agak bolon, dan kadang nyebelin. Tapi di saat aku sedih, menangis, atau ingin menyerah, dia selalu ada. Dia tahu caranya membuatku tertawa. Dia tidak sempurna, tapi kehadirannya begitu berarti.

Aku punya banyak teman, tapi hanya Dedek Erik yang benar-benar tumbuh bersamaku. Kami bermain setiap hari—berlari, menyanyi, main bola, dan berenang di sungai. Semua terasa hangat dan sederhana. Itu adalah masa kecil kami. Waktu yang tak akan pernah kembali.

Sekarang kami mulai tumbuh dewasa. Suatu hari nanti, kami akan masuk SMA, kuliah, dan menjalani hidup kami masing-masing. Mungkin kami tak bisa bermain seperti dulu lagi. Tapi kenangan itu akan selalu hidup di hatiku.

Kami tumbuh bersama, meski waktu itu aku sempat merasa tertinggal. Aku lebih lambat tumbuhnya dibanding yang lain. Tapi tak apa. Sekarang kami sudah besar. Dan masing-masing sedang menapaki jalan hidup yang berbeda.

---

Dedek Erik, terima kasih telah menjadi temanku.
Di saat dunia terasa gelap, kamu adalah satu cahaya yang masih tersisa.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Terburuk yang Mengubah Hidupku

Tertinggal Bukan Berarti Gagal