Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Jakarta: Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Saya Tinggalkan

Jakarta: Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Saya Tinggalkan Sebagai seseorang yang lahir di Jakarta, saya punya keinginan untuk kembali mengunjunginya—dan mungkin, suatu saat bekerja di sana. Menurut cerita ibu saya, kami pindah ke Bandung karena tidak tahan dengan panasnya Jakarta, ditambah saat itu saya masih bayi. Ibu harus mengantar kakak saya ke sekolah sambil menggendong saya, dan saat itu, Jakarta belum memiliki banyak Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Pada akhirnya, tahun 2008 kami resmi pindah ke Bandung. Di Bandung, saya bertemu dengan dua teman pertama saya: Fajar dan Aten—mereka yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Tapi dalam hati kecil saya, saya masih menyimpan rasa terhadap kota asal saya. Dulu saya mengira kami punya rumah di Jakarta. Ternyata, itu hanya rumah kontrakan yang harus dibayar tiap bulan. Seiring bertambah usia, justru rasa suka saya terhadap Jakarta tumbuh makin dalam. Kota itu… meskipun padat dan penuh tantangan, tetap memiliki pesonanya sendiri. Jakarta...

“Kenangan Nakal yang Bikin Ketawa Saat SD”

pengalaman Paling Berkesan Saya akan menceritakan pengalaman yang paling berkesan pada suatu hari ketika saya masih kecil saya mempunyai teman yang paling dekat dengan saya yaitu fajar Ramdani dan Aten Muhammad Nawawi pada saat hari Sabtu anak SD biasa nya hanya satu mata pelajaran, beres beres pulang atau kegiatan Pramuka pulang. Nah pada saat itu juga setelah pelajaran selasai. kelas kami pun melakukan bersih bersih halaman kelas Seperti yang kita ketahui bahwa anak laki-laki biasanya suka kabur pada saat seperti itu. ya kami bertiga pun kabur, kami pun pulang ke rumah masing-masing ganti pakaian, ketemu di tempat yang telah disepakati, bersiap untuk lanjut main. Tapi waktu itu yang lebih dulu di tempat cuma saya dan Fajar. Saya dan fajar memiliki pemikiran yang iseng kami berdua melihat mobil pick up dan kami naik untuk bersembunyi dari Aten. Pemilik mobi pick up adalah pa Saripudin dan dia juga yang menyetirnya. Kami tidak takut di culik karena kami kenal. Kebetulan mobil pick up b...

Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik

Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik Ditulis pada: 26 Maret 2018 Kadang aku bertanya dalam hati: Kenapa semua orang tidak pernah benar-benar mengerti apa yang aku inginkan? Kenapa aku yang selalu merasa sulit menjalani hidup ini? Kenapa hidup terasa begitu menyakitkan? Aku bingung… Apakah ini adalah ujian dari Allah? Atau bukan? Kalau memang ini adalah ujian, aku merasa aku sudah gagal menjalaninya. Aku lelah. Aku merasa rapuh. Tapi di tengah semua rasa itu, aku bersyukur… karena aku punya satu orang teman yang selalu ada untukku. Namanya Dedek Erik. Mungkin dia sedikit ceroboh, agak bolon, dan kadang nyebelin. Tapi di saat aku sedih, menangis, atau ingin menyerah, dia selalu ada. Dia tahu caranya membuatku tertawa. Dia tidak sempurna, tapi kehadirannya begitu berarti. Aku punya banyak teman, tapi hanya Dedek Erik yang benar-benar tumbuh bersamaku. Kami bermain setiap hari—berlari, menyanyi, main bola, dan berenang di sungai. Semua terasa hangat dan sederha...

Tahun Terburuk yang Mengubah Hidupku

Tahun Terburuk yang Mengubah Hidupku Tahun 2021 dan 2022 adalah tahun terberat dalam hidupku. Di tahun 2021, aku lulus dari sekolah dengan harapan tinggi: aku ingin masuk Universitas Indonesia (UI), kampus impian yang sudah lama aku cita-citakan. Aku mengikuti SBMPTN, belajar keras, berdoa, dan berharap. Tapi hasilnya tidak sesuai harapan—aku gagal. Waktu itu aku masih punya harapan lain: ikut ujian mandiri, SIMAK UI. Tapi ternyata, biaya untuk ikut ujian itu tidak sedikit. Dan saat itu, ayahku baru saja pensiun dari pekerjaannya di hotel. Kondisi keuangan keluarga sedang tidak baik. Aku harus mengubur lagi impianku. Masuk tahun 2022, keadaan belum banyak berubah. Aku masih belum bisa ikut ujian mandiri mana pun. Di tengah kekecewaan dan kebingungan tentang masa depan, aku memutuskan untuk bekerja. Aku diterima di sebuah pabrik roti bernama Bakery Family, yang memproduksi roti Aoka. Mungkin ini bukan jalan yang aku rencanakan, tapi inilah jalan yang harus aku jalani saat itu. --- 2023:...

Kenapa Jadi Introvert Itu Bukan Kelemahan

Sering kali, orang mengira introvert itu pendiam, nggak asik, dan tertutup. Padahal, jadi introvert bukan kelemahan—itu cuma cara berbeda dalam merespons dunia. Sebagai introvert, kita nggak selalu butuh keramaian untuk merasa hidup. Kita recharge dari keheningan, dari waktu-waktu sendiri yang penuh makna. Di situ, justru kita menemukan kekuatan. 1. Kita Pendengar yang Baik Introvert cenderung mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Karena itu, kita bisa jadi tempat curhat yang nyaman. Kita memperhatikan detail, meresapi makna, dan memberi respon dengan hati-hati. 2. Kita Reflektif dan Peka Saat orang lain berlomba bicara, introvert lebih sering merenung. Kita suka mikir, bukan karena overthinking, tapi karena ingin memahami. Kita melihat hal-hal kecil yang orang lain lewati begitu saja. 3. Kita Fokus dan Punya Dunia Sendiri Introvert nggak mudah terdistraksi. Kalau lagi suka sesuatu, bisa total banget. Mulai dari menulis, bikin karya seni, sampai ngerancang masa depan, kit...