Jakarta: Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Saya Tinggalkan



Jakarta: Kota yang Tak Pernah Benar-Benar Saya Tinggalkan

Sebagai seseorang yang lahir di Jakarta, saya punya keinginan untuk kembali mengunjunginya—dan mungkin, suatu saat bekerja di sana.

Menurut cerita ibu saya, kami pindah ke Bandung karena tidak tahan dengan panasnya Jakarta, ditambah saat itu saya masih bayi. Ibu harus mengantar kakak saya ke sekolah sambil menggendong saya, dan saat itu, Jakarta belum memiliki banyak Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Pada akhirnya, tahun 2008 kami resmi pindah ke Bandung.

Di Bandung, saya bertemu dengan dua teman pertama saya: Fajar dan Aten—mereka yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Tapi dalam hati kecil saya, saya masih menyimpan rasa terhadap kota asal saya.

Dulu saya mengira kami punya rumah di Jakarta. Ternyata, itu hanya rumah kontrakan yang harus dibayar tiap bulan. Seiring bertambah usia, justru rasa suka saya terhadap Jakarta tumbuh makin dalam. Kota itu… meskipun padat dan penuh tantangan, tetap memiliki pesonanya sendiri.

Jakarta adalah ibu kota Indonesia yang kini akan dipindahkan. Kota yang dulu dikenal dengan macetnya, gedung pencakar langitnya, dan kehidupan yang serba cepat, kini semakin berkembang. Transportasi kian terintegrasi—MRT, LRT, TransJakarta, semua makin memudahkan akses ke berbagai penjuru kota.

Namun, di balik keramaian itu, masih ada sisi Jakarta yang hangat dan akrab: warung kopi pinggir jalan, obrolan ringan antar warga, dan aroma makanan khas yang menggoda.

Jakarta yang dilihat orang tua saya pada tahun 2006 mungkin berbeda jauh dengan Jakarta tahun 2024. Tapi bagi saya, Jakarta adalah kota penuh kenangan dan warna, tempat di mana hidup terus bergerak… namun hati saya tetap ingin pulang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Terburuk yang Mengubah Hidupku

Tertinggal Bukan Berarti Gagal

Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik