Lelah yang Tidak Pernah Benar-Benar Diucapkan

 

Lelah yang Tidak Pernah Benar-Benar Diucapkan

Tidak semua lelah datang dari pekerjaan berat.
Ada lelah yang tumbuh dari kebiasaan menahan diri—menyimpan perasaan, menunda keluh, dan terus berkata “aku baik-baik saja” meski hati sudah penuh.

Lelah jenis ini tidak terlihat. Ia tidak membuat tubuh ambruk, tapi perlahan menguras isi kepala. Setiap hari tetap berjalan normal, tapi rasanya seperti membawa beban yang tidak pernah diturunkan.

Sebagai introvert, aku terbiasa memproses semuanya sendiri. Saat ada yang menyakitkan, aku memilih diam. Saat kecewa, aku memilih memahami. Bukan karena tidak ingin berbagi, tapi karena tidak selalu tahu bagaimana caranya menjelaskan apa yang bahkan belum kupahami sepenuhnya.

Masalahnya, perasaan yang tidak diucapkan tidak pernah benar-benar hilang. Ia menumpuk. Menjadi sesak yang sulit dijelaskan, menjadi capek yang datang tanpa sebab jelas.

Kadang aku ingin dimengerti tanpa harus banyak bicara. Tapi dunia tidak selalu peka pada keheningan. Maka aku belajar satu hal penting: diam boleh, memendam terlalu lama tidak.

Aku mulai belajar mengakui rasa lelahku sendiri. Tidak harus pada semua orang, cukup pada diriku. Mengizinkan diri untuk berhenti, menarik napas, dan tidak selalu kuat.

Karena menjadi kuat bukan berarti tidak pernah lelah.
Menjadi kuat adalah tahu kapan harus jujur pada diri sendiri.

Kini aku pelan-pelan belajar menurunkan beban. Tidak semuanya harus kupikul sendirian. Tidak semua rasa harus kupendam sampai habis. Dan tidak apa-apa jika sesekali aku mengaku: aku capek.

Di situlah kelegaan pertama muncul.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Terburuk yang Mengubah Hidupku

Tertinggal Bukan Berarti Gagal

Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik