Saat Dunia Terlalu Berisik, Aku Memilih Diam

 

Saat Dunia Terlalu Berisik, Aku Memilih Diam

Ada masa ketika dunia terasa terlalu berisik.
Bukan hanya oleh suara kendaraan atau keramaian kota, tetapi oleh tuntutan yang datang bertubi-tubi. Harus cepat merespons, harus selalu siap, harus terlihat kuat. Di tengah kebisingan itu, diam sering dianggap aneh bahkan dicurigai sebagai tanda kelemahan.

Padahal, bagiku, diam adalah cara bertahan.

Sebagai seorang introvert, keheningan bukan pelarian, melainkan tempat pulang. Saat dunia menuntut banyak hal, aku justru perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengumpulkan kembali potongan diriku yang tercecer oleh rutinitas dan ekspektasi.

Aku belajar bahwa tidak semua percakapan perlu diikuti. Tidak semua opini harus ditanggapi. Ada hal-hal yang lebih baik dipahami dalam diam. Di sanalah pikiranku bekerja dengan jujur, tanpa tekanan untuk menyenangkan siapa pun.

Diam juga mengajarkanku untuk mendengar. Bukan hanya mendengar orang lain, tetapi mendengar diriku sendiri. Apa yang sebenarnya aku rasakan? Apa yang aku butuhkan? Pertanyaan-pertanyaan itu sering tenggelam di tengah kebisingan, dan baru terdengar saat semuanya sunyi.

Banyak orang takut pada keheningan karena di sanalah mereka bertemu dengan pikirannya sendiri. Namun bagiku, keheningan justru menenangkan. Ia memberi ruang untuk refleksi, untuk menerima bahwa tidak apa-apa merasa lelah, tidak apa-apa mengambil jarak.

Memilih diam bukan berarti aku kalah oleh dunia. Justru sebaliknya, aku sedang memilih caraku sendiri untuk tetap utuh. Aku tidak menutup diri dari kehidupan, aku hanya mengatur jarak agar tidak kehilangan arah.

Di dunia yang terlalu berisik, diam adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus, dan keberanian untuk setia pada ritme diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Terburuk yang Mengubah Hidupku

Tertinggal Bukan Berarti Gagal

Surat Refleksi: Tentang Luka, Doa, dan Seorang Teman Bernama Erik