Aku Tidak Malas, Aku Hanya Butuh Ruang untuk Bernapas
Aku Tidak Malas, Aku Hanya Butuh Ruang untuk Bernapas
Sering kali, ketika aku menarik diri dari keramaian, orang mengira aku malas. Tidak produktif. Terlalu banyak diam. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku sedang mengisi ulang diriku sendiri.
Tidak semua orang memulihkan energi dengan berbicara. Ada yang justru menemukan tenang dalam kesendirian.
Diam Bukan Berarti Tidak Peduli
Sebagai introvert, diam sering disalahartikan. Padahal di balik diam itu ada banyak pikiran yang berjalan. Ada perasaan yang diproses perlahan. Ada hati yang sedang mencoba memahami keadaan.
Aku peduli, hanya saja caraku berbeda.
Dunia yang Terlalu Ramai
Hidup di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan membuatku sering kelelahan. Terlalu banyak suara, terlalu banyak ekspektasi, terlalu sedikit ruang untuk benar-benar bernapas.
Menarik diri sejenak bukan bentuk pelarian. Itu cara bertahan.
Ruang Sunyi yang Menyembuhkan
Dalam kesendirian, aku bisa mendengar diriku sendiri. Mengurai lelah yang tidak sempat diungkapkan. Mengembalikan keseimbangan yang sempat hilang.
Ruang sunyi bukan musuh. Ia adalah tempat pulang.
Bukan Malas, Tapi Mengenal Batas
Aku tetap punya mimpi. Tetap ingin berkembang. Hanya saja aku belajar untuk tidak memaksakan diri. Mengenal batas bukan kelemahan, melainkan bentuk kepedulian pada diri sendiri.
Tidak semua istirahat adalah kemunduran.
Penutup
Aku tidak malas. Aku hanya sedang memberi diriku ruang untuk bernapas, agar ketika kembali melangkah, aku melakukannya dengan lebih utuh dan sadar.
Komentar
Posting Komentar